Gugun Blues Shelter Review FIRETORY SMU 5 BDG
June 2, 2010
22 Mei 2010, hari dimana bandung kebanjiran event dan gig pilihan. Kami datang menghadiri “FIRETORY” pensi SMAN 5 Bandung. Mengambil lokasi di bilangan Jalan Belitung. Acara dimulai sekitar pukul 9 lebih, itu lebih baik daripada kamu mengantuk menonton band di pagi hari. Di awal, Gending Kulonan. Performer yang satu ini menggunakan kendang dan alat-alat musik tradisional lainnya sebagai tambahan pengiring musik. Lalu di lanjut dengan Rocket Steady, band ska ini cukup ciamik menyulap para penonton bergoyang dengan alunan terompet, irama irama yang membuat mood bahagia. Selanjutnya, band newcomer multi talent Gorilla Trampoline mulai dipanggil ke atas panggung dan memulai aksi, mengambil tema kostum ala pesenam yang bermisi membunuh ketenaran Vicky burky.
Setelah adzan dzuhur dan rehat sejenak kami kembali ke arena firetory untuk menikmati penampil berikutnya. Noin Bullet sedang tampil ketika kami datang, tampilan noin di akhiri dengan lagu yang tidak pernah di lupakan oleh scene musik indie bandung “Bakakak hayam”, alhasil penonton berlari ke depan panggung dan bergoyang ska sambil meneriakan ‘bakakak hayam!’
Hari semakin panas, matahari begitu terik. Ami Galawsky dan Dini Andromeda tetap ceria memandu acara siang itu. Giliran The Experience Brother naik panggung, band duo ini memulai aksinya dengan petikan gitar sang vokalis di giginya, selebihnya mereka berhasil membuat para penonton terkesima dengan komposisi musik yang begitu berisi meski tanpa bass dan gitar tambahan.
Matahari makin menyengat, Burgerkill siap meramaikan panggung dengan spirit metalnya. Penonton berslamdance bersama tanpa ada keributan sama sekali walau secara logika panas terik matahari akan menimbulkan emosi, but this is the best way to be metalhead dude! Salut!. Burgerkill menutup penampilannya dengan ‘atur aku’, musik hasil cover lagu puppen tersebut memancing penonton untuk membuat circle pit besar di depan panggung.
Setuntas burgerkill kami beristirahat sambil menikmati band intern yang berkolaborasi dengan vocal group sma 5 plus kombinasi cantik cheerleader 5. Haha dont miss the cheers action guys!!
Kaum adam biasanya paling semangat menonton di barisan paling depan. Di sela-sela cheers beraksi hujan mulai turun, tidak seperti yang diperkirakan karena sebelumnya siang itu langit begitu cerah. Kami terpaksa mencari tempat berteduh, penonton pun tidak banyak yang bertahan di lapangan kecuali kedua MC.
Next, walau hujan semakin besar tidak membuat speaker first mati gaya, vokalis athir membakar semangat penonton dengan ikut berhujan-hujanan di derasnya air sambil bernyanyi. “Biarpun hujan kita tetap rock n roll terus oke!” Speaker first membawa para penonton berjingkrak lewat salah satu lagunya “Dunia Milik Kita”.
Hujan tetap tidak mau berhenti, seakan ingin “memberhentikan” acara ini. Balerina bersiap-siap dan mulai membawakan 1 lagu, saat itu juga dekorasi yang dibuat oleh anak-anak sma 5 bandung mulai sedikit terganggu. Balerina terpaksa menunda aksinya. Hujan semakin deras, panitia firetory tetap berusaha agar acara terus bergulir. Cukup lama waktu kami untuk menunggu acara ini dilanjutkan. Selintas terlihat MC Ami galawsky, mondar mandir kesana kemari tanpa menggunakan sepatu, celananya di angkat sebatas betis seperti mau ‘nyawah’ hahaha kocak.
Setelah mungkin sekitar setengah jam lebih, MC mulai naik lagi ke panggung dan meneriakan “lanjut!!???” para penonton berteriak tidak sabar untuk melanjutkan acara, Balerina meneruskan aksinya yang sempat tertunda. Penonton tidak mau kalah oleh hujan, mereka tetap berkumpul dilapangan untuk menyaksikan Balerina. Benar-benar “dua jempol” untuk penonton firetory, walaupun hujan mengguyur deras, mereka tetap setia di lapangan menyaksikan band idolanya tampil. Setelah menyuguhkan lagu-lagu yang berdurasi lama tapi tidak membosankan, Balerina pun pamit. Selang beberapa waktu, Don Lego mulai beraksi di tengah hujan yang mulai mereda. Mereka seolah menyulut kembali “gairah” firetory dengan lantunan ritme skinhead ska khas mereka, penonton tentu tak akan berhenti ‘Berdansa’. Hujan berangsur reda, penampil selanjutnya, Ramez. Awalnya sound gitar dari band ini terasa kurang ‘greget’, tetapi mereka “membayar” dengan suguhan “Smells Like Teen Spirit” nirvana sebelum turun panggung.
Hari mulai sedikit gelap, kami tidak melihat lightning yang cukup di panggung firetory. Awalnya, kami sedikit ragu apakah acara ini dapat terus berjalan. Kekhawatiran kami terobati, lightning sederhana dipasang di panggung ketika mocca mulai membawakan lagu ‘i remember’, swinging friends sing along saat Arina sang vokalis melantunkan tembang manis ini. Mocca menyambung dengan singel mocca di album E.P terbarunya yang akan di rilis ‘Lucky Me’. Dua lagu, mocca berhenti sejenak tanda break adzan magrib. Maghrib rampung, mocca melanjutkan permainanya dengan dentingan suara piano, bernyanyi ‘Hyper Ballad’.
Diluar dugaan, ketika sedang asyik bernyanyi, secara tiba-tiba tampak beberapa aparat keamanan yang naik ke atas panggung dan mengambil alih microphone Arina. Otomatis lagu dihentikan dan penonton mulai kecewa, para penonton tentu tidak mau acara selesai sampai disini saja “GO 5 GO 5 GO 5 GO!!” teriak penonton tanpa menghiraukan aparat. Panitia pun tak mau kehilangan muka, mereka terlibat sedikit diskusi dan negosiasi dengan pihak polisi. Hasilnya, MC mengumumkan acara di lanjutkan 10 menit kemudian karena menurut pak polisi, ini masih masuk jadwal break adzan magrib. Kasih daaah, hehehe.
Beberapa menit kemudian pak polisi mengumumkan acara hanya boleh di lanjutkan hingga pukul 19.00 WIB dengan alasan lightning yang kurang memadai serta beberapa pertimbangan keamanan lainya. Setelah pengumuman tersebut mocca kembali tampil kembali dengan lagunya “The Best Thing”. Setelah Mocca selesai, Ecoutez naik panggung. Hanya mengumandangkan satu lagu ‘Simpan Saja’, meski begitu ecoutez tetap tidak kehilangan sentuhan jazzy-nya.
Next, aroma blues mulai terasa. Ya, Gugun Blues Shelter. Gugun, John, dan Bowie mulai menggetarkan panggung firetory. Bowie sang pemukul drum “menyita” perhatian para penonton lewat permainan drumnya yang menawan, energik tapi tetap terdengar “easy” di telinga. John sang bassis kala itu berkostum proklamator tampil sangat atraktif, dia melakukan slide-slide dan tarian moon walk. Mungkin karena sepatu yang di pakainya begitu licin terkena basahnya lantai panggung, itu membuat para penonton tertawa dan memanggilnya “bule gila”. Gugun dkk memang selalu tahu cara untuk membuat penonton “angkat topi”.
Saatnya yang di tunggu-tunggu oleh para hadirin firetory, maliq membuka panggung dengan ‘Heaven’. Sudah sepantasnya, mereka sukses membuat penonton menjerit keras, sambil sing along. Ekspresi bahagia penonton tidak dapat dibendung, mereka meloncat-loncat menikmati lagu, seakan tidak peduli lantai dansa yang becek. Haha ![]()
Akhirnya, The Cash siap tampil sebagai band pemuncak. “The real skill is dead” ke-2 setelah teenage deathstar ini datang dengan visi ‘membunuh musik melayu indonesia’. Di awali dengan sambutan jeritan wanita-wanita, dan aksi ‘buka baju’ dari vincent, mereka memulai show dengan intro yang ketukan drumnya begitu kering tak berisi. Lanjut dengan lagu “Bakar” lagi-lagi sukses tidak main bagus karena suara Tora Sudiro mulai mengecil kelelahan. Haha still fun of course! Setelah lagu ‘Bakar’, sedikit ‘panggung lawak’ terjadi. Menarik, ketika untuk kesekian kalinya pak polisi naik panggung, mungkin dengan niatan mengingatkan agar acara harus berhenti. Vincent tidak memberikan microphonenya pada pak polisi, malah Tora iseng bersenandung bernyanyi-nyanyi “itu kumis kumis kumis kumis”. Semua penonton tertawa, dan akhirnya pak polisi mengabulkan perpanjangan waktu. penonton pun menyambutnya dengan tepuk tangan.
Show must go on, selanjutnya Tora, Vincent, dan Desta membawakan hits nya yang berjudul “Celanaku Kedodoran”. Musik yang datar memang, tapi itu justru daya tarik mereka. Di akhir penampilanya, the cash meminta 3 penonton untuk bermain gitar, bass, dan drum di atas panggung, sementara ke 3 personil nya memanaskan suasana penonton sambil bernyanyi. “Terimakasih FIRETORY!! You rock!!” teriak vincent di akhir sekaligus menyudahi aksi klimaks mereka.
Kabaret 5 batal tampil karena rundown yang mepet ditambah sedikit masalah perizinan. Secara keseluruhan, acara ini berlangsung semarak, meskipun diwarnai hal-hal yang terjadi diluar rencana. Kami salut melihat totalitas panitia firetory dalam mempertahankan kelangsungan konsep acara. Great work FIRETORY!! Setidaknya dengan pengalaman ini, membuat kami semakin mengerti makna dari petikan sebuah lirik yang berbunyi “Hujan, Jangan Marah!”. Ayo tebak liriknya siapa?
http://gigsplay.com/event-review-firetory/



